LAPORAN PROSES MINYAK KELAPA SAWIT

Posted On April 7, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

KATA PENGANTAR

Seperti diketahui bersama bahwa Indonesia mempunyai lahan perkebunan kelapa
sawit. Bila ditinjau dari segi produktivitas, Indonesia dari tahun 2006 sudah mengalami
peningkatan dan mengalahkan produktivitas Malaysia. Ini memperlihatkan efisiennya
pengolahan kelapa sawit di Indonesia selama ini.
Dengan melihat kondisi – potensi lahan, industri minyak kelapa sawit, pasar hasil
industri kelapa sawit baik dalam negeri maupun luar negeri serta membandingkannya
dengan nilai perdagangan kelapa sawit Indonesia dan dunia, buku ini menyajikan paket
informasi berkaitan dengan minyak kelapa sawit. Unsur‐unsur penunjang perekonomian
nasional seperti sektor perkebunan, industri minyak kelapa sawit. Paket informasi ini
serta menggunakannya sebagai referensi pengembangan bisnisnya pada bidang masingSemoga dengan adanya Paket Informasi kelapa sawit ini bisa menambah
khasanah informasi bagi para stake‐holder dalam menunjang pengembangan industri
kelapa sawit nasional.

PENDAHULUAN

I.1. SEJARAH KELAPA SAWIT

Pohon Kelapa Sawit terdiri daripada dua spesies Arecaceae atau famili palma yang
digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Pohon
Kelapa Sawit Afrika, Elaeis guineensis, berasal dari Afrika barat di antara Angola dan
Gambia, manakala Pohon Kelapa Sawit Amerika, Elaeis oleifera, berasal dari Amerika
Tengah dan Amerika Selatan.
Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Bunga
dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak,
berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya
mengandungi minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun,
dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah
satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar
dan arang.
Urutan dari turunan Kelapa Sawit:
Kingdom: Tumbuhan
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Jenis: Elaeis
Spesies: E. guineensis
I.2. CIRI‐CIRI FISIOLOGI KELAPA SAWIT
A. Daun
daunnya merupakan daun majemuk. Daun berwarna hijau tua dan pelapah
berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak,
hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam.
B. Batang
Batang tanaman diselimuti bekas pelapah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12
tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengaN tanaman kelapa.
LATAR BELAKANG
INDUSTRI MINYAK KELAPA SAWIT
1.2. MINYAK KELAPA SAWIT
Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek kualitas.
Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan
kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan kejernihan serta
kemurnian produk. Kelapa sawit bermutu prima (SQ, Special Quality) mengandung asam
lemak (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2 % pada saat pengapalan. Kualitas standar
minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari 5 % FFA. Setelah pengolahan, kelapa
sawit bermutu akan menghasilkan rendemen minyak 22,1 % ‐ 22,2 % (tertinggi) dan
kadar asam lemak bebas 1,7 % ‐ 2,1 % (terendah).
I.3. STANDAR MUTU MNYAK KELAPA SAWIT
mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama, benar‐benar
murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak kelapa sawit
tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat‐sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur
titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit
berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar
mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga,
peroksida, dan ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang
digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masing‐masing
berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya
harus lebih Diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat ditentukan oleh
banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya,
penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan.
Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit tersebut,
didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein
TUJUAN
Agar mengetahui lebih luas tentang pengoahan minyak kelapa sawit.
Tinjauan Umum
Kelapa sawit merupakan sumber lemak nabati yang populer karena produksi/ pengolahan minyak kelapa sawit yang tinggi di negara-negara Asia Tenggara, bahkan minyak kelapa sawit menjadi komoditas pertanian utama dan unggulan di Indonesia, di samping minyak kelapa. Hal itu disebabkan karena beberapa faktor, antara lain:
1) menjadi sumber pendapatan bagi jutaan keluarga petani,
2) sumber devisa Negara,
3) mulai dari perkebunan, industri pengolahan, sampai dengan pemasaran produknya menjadi primadona penyedia lapangan kerja,
4) perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit tersebut memacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru,
5) pendorong tumbuh dan berkembangnya industri pengolahan hilir berbasis pengolahan CPO di Indonesia, misal.: mentega, kue/biskuit, gliserin, sabun, dan deterjen.

MANFAAT
Manfaat Kelapa Sawit
Produk utama pohon kelapa sawit yang dimanfaatkan adalah tandan buahnya yang menghasilkan minyak dari daging buah dan kernel (inti sawit). Minyak kelapa sawit adalah bahan untuk pembuatan :
a) mentega, minyak goreng dan kue/biskuit
b) bahan industri tekstil, farmasi, kosmetika, gliserin
c) sabun, deterjen, pomade.
Ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kaliun dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan. Ampas inti sawit (bungkil) digunakan untuk makanan ternak, sedangkan batang dan pelepah daun merupakan bahan pembuat particle board.

WAKTU DAN TEMPAT
Hari : kamis
Tgl : 22/oktober/01/2010
Tempat : PT.Karya Tanah subur ( PKS )
Sejarah PT.Karya tanah subur
Pt. karya tanah subur berdiri sejak 1987 didirikan oleh Bpk T.oesman jacoul hingga sat ini.
Lokasi desa padang si kabu kecamatan/melaboeh- Aceh barat
Luas area = 5.327 Ha
Luas tanah = 4.525 Ha
BTM = 450 Ha
Fungsi pabrik
1. Beroperasi secara lancar dan mampu melayani pada bulan puncak.
2. Menghasilkan minyak dan kernel semaksimal mungkin dengan
kehilangan produksi seminimal mungkin.
3. Menghasilkan minyak dan kernel dengan mutu memenuhi standard
dan selalu konsisten dari bahan baku yang standard.
4. Biaya operasi optimum.
B. Mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada di pabrik.
-. Tenaga kerja.
-. Mesin.
-. Bahan baku.
-. Biaya terbatas

C. Meningkatkan kemampuan SDM melalui :
-. Pelatihan.
-. Motivasi.
-. Kepemimpinan.
Bab II Dasar-dasar teori
1. Tentang pengolahan kelpa sawit di pt. karya tanah subur
2. Mengetahui proses langsung minyak kelapa sawit
2.1 HASIL KELAPA SAWIT
Bagian yang paling utama untuk diolah dari kelapa sawit adalah buahnya. Bagian daging
buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku
minyak goreng. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah
kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi
bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C.
Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang
dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan
dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga
sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak
dan difermentasikan menjadi kompos.
2.2 PERKEMBANGAN INDUSTRI KELAPA SAWIT
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah
satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas
bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan
minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu
pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.
Berkembangnya sub‐sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari
adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan
dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan
rakyat dengan pola PIR‐Bun dan dalam pembukaan wilayah baru untuk areal
perkebunan besar swasta.

Bab III Pembahasan
Pengolahan minyak kelapa sawit

PENGOLAHAN MINYAK KELAPA SAWIT
Sterilisasi
Tahap sterilisasi ini dalam pengolahan minyak kelapa sawit secara teknis dilakukan dengan memberikan steam/ uap air pada tandan dalam suatu alat sterilizer berupa autoclave besar. Tujuan sterilisasi dalam pengolahan atau pembuatan minyak tersebut adalah 1) merusak enzim lipolitik, sehingga dapat mencegah perkembangan asam lemak bebas, 2) memudahkan pelepasan buah dari tandan, 3) melunakkan buah, serta 5) mengkoagulasikan gum/emulsifier sehingga memudahkan pengambilan minyak. Distribusi waktu pengolahan selama sterilisasi terbagi menjadi lima bagian, yaitu: 1) pengeluaran udara, 2) waktu untuk mencapai tekanan yang diperiukan, 3) waktu untuk sterilisasi tandan, 4) pengeluaran uap air, serta 5) pembongkaran, penurunan, & reloading. Bila waktu pengolahan pada tahap sterilisasi terlama lama, maka akan banyak minyak hilang (3%) serta kernel berwarna kehitaman (gelap). Bila waktu pengolahan selama tahap sterilisasi terlalu singkat, maka buah akan sulit lepas dari tandan pada tahap pengolahan selanjutnya, yaitu threshing.

Stripping / threshing / pemipilan
Alat yang digunakan pada tahap pengolahan ini disebut sebagai stripper (pemipil), berfungsi untuk melepaskan buah dari tandannya dengan cara membanting tandan, sehingga kadang-kadang tahap proses ini disebut sebagai tahap proses bantingan atau tahap pengolahan bantingan, dengan rangkaian peralatan yang disebut sebagai stasiun bantingan. Tujuan dari proses stripping atau treshing atau bantingan dalam pengolahan minyak ini adalah untuk: 1) pelepasan buah kelapa sawit dari tandannya, hasil pipilannya disebut sebagai brondolan, 2) minyak hasil ekstraksi tidak terserap lagi oleh tandan sehingga tidak menurunkan efisiensi pengolahan, serta 3) tandan tidak mempengaruhi volume bahan dalam tahap pengolahan lebih lanjut. Stripper harus menerima bahan secara tetap sesuai dengan kapasitas selama tahap pengolahan ini, karena bila terlalu banyak pada awalnya, tandan akan saling melindungi, sehingga masih ada bahan yang belum terlepas.

Digesti
Pada tahap pengolahan ini digunakan kettles (tangki silinder tertutup dalam steam jacket, dimana di dalam tangki terdapat pisau-pisau atau batang-batang yang terhubung pada poros utama, berfungsi untuk menghancurkan buah yang telah dipisahkan dari tandannya). Tujuan tahap digesti dalam pengolahan minyak kelapa sawit adalah untuk: 1) membebaskan minyak dari perikarp, 2) menghasilkan temperatur yang cocok bagi massa tersebut untuk dikempa (190° C), 3) pengurangan volume sehingga dapat meningkatkan efisiensi pengolahan minyak kelapa sawit serta 4) penirisan minyak yang telah dilepaskan selama tahap pengolahan ini.
Di dalam digester, buah akan hancur akibat adanya gesekan, tekanan, dan pemotongan. Minyak juga telah mulai dilepaskan dari buahnya pada tahap proses ini. Minyak hasil digesti keluar melalui lubang di bawah digester, kemudian akan dicampur dengan minyak hasil dari tahap pengolahan minyak kelapa sawit selanjutnya yaitu tahap ekstraksi atau pengempaan.

Ekstraksi Minyak kelapa sawit
Pada awal tahap pengolahan ini, brondolan tercacah dan keluar dari bagian bawah digester sudah berupa bubur. Hasil cacahan tersebut kemudian dikempa dalam alat pengempa yang berada di bawah digester. Umumnya, alat pengempaan yang digunakan di perusahaan pengolahan minyak kelapa sawit adalah screw press. Putaran screw mendorong bubur buah ke arah sliding cone pada posisi yang berlawanan. Minyak keluar dari bubur buah kemudian melewati press cage.
Pengempaan dengan screw press dalam pengolahan tersebut memiliki ciri-ciri: 1) bekerja dengan tekanan tinggi dimana tekanan tersebut diperoleh dari perputaran uliran/srew, 2) berbentuk screw / helix yang berputar dalam wadah, 3) tekanan terhadap press cake makin besar, karena jarak antar uliran dengan dinding makin sempit, 4) tekanan terlalu besar mengakibatkan banyak nut pecah, serta 5) cocok untuk kelapa sawit dengan persentase nut kecil dan persentase serabut besar atau proporsi nut terhadap buah sekitar 20 %.

Penjernihan (clarifer)
Penjernihan pada stasiun klarifikasi, kadang disebut sebagai pemurnian minyak,dalam pengolahan kelapa sawit bertujuan untuk menjernihkan sehingga diperoleh minyak dengan mutu sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga baik. Tahapan klarifikasi dalam industri pengolahan tersebut adalah penyaringan, pengendapan, sentrigasi, dan pemurnian.
Minyak kasar campuran dari digesti dan pengempaan dialirkan menuju ke saringan getar (vibrating screen) untuk disaring agar kotoran berupa serabut kasar dapat dipisahkan. Minyak kasar lalu ditampung dalam tangki penampung minyak kasar (crude oil tank/ COT), selanjutnya dipanaskan hingga suhu/ temperatur 95 – 100oC, dengan tujuan untuk memperbesar perbedaan berat jenis (BJ) antara minyak, air dan sludge sehingga sangat membantu dalam proses pengendapan.
Minyak dari COT selanjutnya dialirkan ke tangki pengendap (continous settling tank/ clarifier tank). Di dalam tangki tersebut crude oil terpisah menjadi minyak dan sludge atau lumpur akibat pengolahan dengan teknik pengendapan. Sludge masih dapat diambil minyaknya dengan teknik pengolahan minyak kelapa sawit tertentu misalnya sentrifugasi (centrifuge) atau pemusingan.
Pengolahan minyak kelapa sawit selanjutnya melalui tahap pemurnian

3.1.Diagram proses pengolahan

PENUTUP

3.2. KESIMPULAN

Industri minyak kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis, karena
berhubungan dengan sektor pertanian (agro‐based industry) yang banyak berkembang
di negara‐negara tropis seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Hasil industri minyak
kelapa sawit bukan hanya minyak goreng saja, tetapi juga bisa digunakan sebagai bahan
dasar industri lainnya seperti industri makanan, kosmetika dan industri sabun.
Prospek perkembangan industri minyak kelapa sawit saat ini sangat pesat, dimana
terjadi peningkatan jumlah produksi kelapa sawit seiring meningkatnya kebutuhan
masyarakat.
Dengan besarnya produksi yang mampu dihasilkan, tentunya hal ini berdampak positif
bagi perekenomian Indonesia, baik dari segi kontribusinya terhadap pendapatan negara,
maupun besarnya tenaga kerja yang terserap di sektor. Sektor ini juga mampu
meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perkebunan sawit, di mana presentase
penduduk miskin di areal ini jauh lebih rendah dari angka penduduk miskin nasional
sebesar. Boleh dibilang, industri minyak kelapa sawit ini dapat diharapkan menjadi
motor pertumbuhan ekonomi nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Bagi, F.S. and I.J. Singh. 1974. A Microeconemic Model of Farm Decisions in an
LDC: A Simultaneous Equation Approach. Department of Agricultural
Economics and Rural Sociology, The Ohio University, Ohio.
Barnum, H.N. and L. Squire. 1978. An Econometric Application of the Theory
of the Farm-Household. Journal of Development Economics, (6): 79–102.
Basalim, U., M.R. Alim dan H. Oesman. 2000. Perekonomian Indonesia: Krisis
dan Strategi Alternatif. Universitas Nasional, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 1997. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
_________________. 2000. National Labour Force Survey 1997, 1998 and 1999.
Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Becker, G.S. 1965. A Theory of Allocation of Time. Economic Journal, 299 (75):
493–517.
De Vos, S. 1993. Socio-economic Differences in Houshold Complexity in Sri
Lanka. Asia-Pacific Population Journal, 1 (3): 47–59.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan. 2002. Rencana Induk Pengembangan
Industri Kecil Menengah. Departemen Perindustrian dan Perdagangan
Republik Indonesia, Jakarta.
Djunaedi, E. 1998. Analisis Pola Subkontrak dan Nilai Tambah Pengolahan pada
Industri Kecil Barang Jadi Rotan: Kasus pada Industri Kecil Barang Jadi
Rotan di Sentra Industri Rotan Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten
Cirebon, Jawa Barat. Skripsi Sarjana. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Erwinsyah. 1999. Kebijakan Pemerintah dan Pengaruhnya terhadap Pengusaha
Rotan di Indonesia. Enviromental Policy and Institutional Strengthening
IQC, OUT-PCE-I-806-00002-00.
Fariyanti, A. 1995. Dampak Kebijaksanaan Larangan Ekspor Rotan terhadap
Pertumbuhan Industri dan Distribusi Rente Ekonomi di Indonesia. Tesis
Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Gronau, R. 1977. Leisure, Home Production and Work: The Theory of the
Allocation of Time Revisited. Journal of Political Economy, 85 (6): 1099–
1123.
159
Harlinda. 1995. Dampak Larangan Ekspor Rotan terhadap Perkembangan Usaha
dan Efisiensi Industri Rotan di Sumatera Selatan. Tesis Magister Sains.
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hadi, J. 2003. Modul Pengenalan Singkat Eviews Version 3.1. Laboratorium
Komputer Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Hardono, G.S. 2003. Simulasi Dampak Perubahan Faktor-Faktor Ekonomi
Terhadap Ketahanan Pangan Rumahtangga Pertanian. Jurnal Agro
Ekonomi, 21 (1): 1–25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.